Kebakaran di Kalimantan kembali menjadi perhatian pada Agustus 2026. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di sejumlah wilayah, terutama Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Kondisi ini semakin serius karena musim kemarau dan pengaruh El Niño meningkatkan risiko munculnya titik api.
Per Kamis, 27 Agustus 2026, kondisi karhutla di Kalimantan masih menjadi prioritas pemerintah. Data terbaru menunjukkan titik panas masih terdeteksi di sejumlah wilayah. Bahkan, BMKG mendeteksi 1.079 titik panas di Kalimantan Selatan pada Kamis pagi. Seluruh wilayah Kalsel saat itu berada dalam kondisi sangat mudah mengalami kebakaran hutan dan lahan.
Kondisi Kebakaran di Kalimantan Terbaru
Kebakaran terjadi di beberapa provinsi dengan tingkat keparahan yang berbeda. Salah satu wilayah yang mendapat perhatian besar adalah Kalimantan Barat.
Sebagian area yang terbakar merupakan lahan gambut. Kondisi tersebut membuat penanganan kebakaran menjadi lebih sulit karena api dapat bertahan dan menyebar di bawah permukaan tanah. Petugas tidak hanya perlu memadamkan api yang terlihat, tetapi juga melakukan pendinginan untuk mencegah bara kembali menyala.
Kalimantan Selatan juga menghadapi kondisi yang perlu diwaspadai. Pada Kamis, 27 Agustus 2026, BMKG mendeteksi 1.079 titik panas yang tersebar di 12 kabupaten/kota. Kabupaten Banjar mencatat jumlah terbanyak dengan 242 titik, diikuti Hulu Sungai Selatan sebanyak 207 titik dan Tapin sebanyak 187 titik.
Mengapa Kebakaran di Kalimantan Sulit Dikendalikan?
Salah satu faktor yang memperbesar risiko karhutla adalah kondisi cuaca. Reuters melaporkan bahwa pemerintah Indonesia memprioritaskan Kalimantan setelah terjadi peningkatan titik panas di kawasan tersebut.
BMKG memperkirakan periode kritis kebakaran hutan dan lahan berlangsung pada Agustus hingga September, sementara kondisi El Niño diperkirakan dapat bertahan hingga awal 2027.
Lahan gambut menjadi tantangan tambahan. Ketika gambut mengalami kekeringan, api dapat menjalar di bawah permukaan dan sulit terlihat dari atas.
Selain faktor alam, aktivitas manusia juga menjadi perhatian. Pembukaan lahan dengan cara membakar dapat memicu kebakaran yang sulit dikendalikan, terutama ketika kondisi lahan kering dan angin cukup kuat.
Apa yang Sudah Dilakukan Pemerintah?
Pemerintah telah menjalankan berbagai langkah untuk mengendalikan kebakaran di Kalimantan. Penanganannya melibatkan BNPB, Kementerian Kehutanan, BMKG, TNI, Polri, pemerintah daerah, Manggala Agni, BPBD, masyarakat, dan berbagai unsur lainnya.
Salah satu langkah utama adalah memperkuat pemadaman dari darat dan udara. BNPB melaporkan pengerahan helikopter water bombing di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Di Kalimantan Barat, empat helikopter water bombing melakukan 223 kali penjatuhan air dalam satu hari dengan total sekitar 1,052 juta liter air. Operasi darat juga melibatkan 2.751 personel gabungan.
Di Kalimantan Tengah, tiga helikopter water bombing telah melakukan 159 kali penerbangan untuk menjatuhkan air ke titik api yang terdeteksi. Pemerintah juga mengerahkan sekitar 10.700 personel satgas darat untuk menangani karhutla di wilayah tersebut.
Sementara itu, penanganan di Kalimantan Selatan melibatkan dua helikopter water bombing dan 714 personel darat. Operasi udara tersebut secara akumulatif telah melakukan ratusan kali penjatuhan air.
Pemerintah Jalankan Operasi Modifikasi Cuaca
Selain pemadaman langsung, pemerintah menggunakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk meningkatkan peluang turunnya hujan di wilayah yang membutuhkan.
Di Kalimantan Barat, OMC pada periode 22–27 Agustus 2026 telah menjalankan tiga sorti penyemaian dengan sekitar 3.000 kilogram bahan semai.
Operasi modifikasi cuaca tidak berarti hujan dapat turun kapan saja sesuai keinginan. Pelaksanaannya sangat bergantung pada kondisi atmosfer dan ketersediaan awan yang sesuai.
Presiden Prabowo Turun Langsung Memantau Karhutla
Penanganan kebakaran di Kalimantan juga mendapat perhatian langsung dari Presiden Prabowo Subianto.
Pada 22 Agustus 2026, Presiden Prabowo tiba di Kalimantan Barat dan langsung menggelar rapat terbatas bersama sejumlah menteri, pimpinan lembaga, serta pemerintah daerah. Presiden juga melakukan pemantauan kondisi karhutla melalui patroli udara.
Dalam rapat tersebut, pemerintah mendapatkan laporan mengenai kondisi titik panas di Kalimantan Barat. Berdasarkan pemantauan satelit selama 24 jam, tercatat 198 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi, selain ribuan hotspot dengan tingkat kepercayaan menengah dan rendah.
Presiden juga meminta jajaran terkait mempercepat penanganan di lapangan. TNI dan Polri diarahkan untuk turun langsung serta berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya mengandalkan pemadaman ketika api sudah muncul, tetapi juga membutuhkan koordinasi untuk mencegah kebakaran meluas.
Kemenhut Kerahkan 1.000 Polisi Kehutanan
Pada 27 Agustus 2026, Kementerian Kehutanan kembali memperkuat penanganan karhutla dengan mengerahkan 1.000 personel Polisi Kehutanan (Polhut) ke sejumlah wilayah Kalimantan.
Personel tambahan tersebut bertugas memperkuat patroli di kawasan rawan, melakukan deteksi dini, memantau kondisi lapangan, memverifikasi laporan masyarakat, serta membantu menindaklanjuti indikasi pelanggaran kehutanan.
Langkah tersebut penting karena pencegahan menjadi salah satu kunci dalam mengurangi risiko kebakaran. Semakin cepat potensi api terdeteksi, semakin besar peluang petugas mencegahnya berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
Enam Perusahaan Mendapat Sanksi
Pemerintah juga mulai mengambil tindakan terhadap perusahaan yang arealnya terbakar.
Pada 25 Agustus 2026, Kementerian Kehutanan menjatuhkan sanksi administratif kepada enam perusahaan yang areal kelolanya mengalami karhutla dengan total luas sekitar 1.511,55 hektare. Wilayah tersebut berada di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.
Untuk kawasan gambut, pemulihan dapat mencakup perbaikan tata air, penyekatan kanal, pembasahan kembali gambut, serta pemantauan tinggi muka air tanah.
Baca Juga : Cuaca Ekstrem Melanda Sejumlah Wilayah Warga Diminta Tetap Waspada
Kondisi Kebakaran di Kalimantan Masih Perlu Diwaspadai
Berbagai langkah pemerintah menunjukkan bahwa penanganan kebakaran di Kalimantan terus berjalan.
Pemerintah juga masih menghadapi tantangan berupa cuaca kering, kondisi lahan gambut, angin, serta potensi kebakaran baru. Karena itu, keberhasilan penanganan tidak hanya bergantung pada kemampuan memadamkan api, tetapi juga pada pencegahan, pengawasan kawasan, penegakan hukum, dan keterlibatan masyarakat.
Bagi masyarakat, kondisi ini menjadi pengingat untuk tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran, terutama pembakaran lahan secara sembarangan.